Oleh: ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com
DALAM kehidupan anak, ada dua proses yang berlangsung secara kontiyu. Yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependen, saling bergantung satu sama lainnya.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alamiah yang terjadi pada setiap mahluk hidup. Pada masa balita proses pertumbuhan dan perkembangan ini terjadi dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi pada seorang anak pun tidak hanya meliputi perubahan fisik, tetapi juga perkembangan berpikir, perasaan, sosial, dan lainnya.
Menurut Dr. Kartini Kartono (1995) dalam bukunya psikologi anak, mendefinisikan pertumbuhan dengan perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam peredaran waktu tertentu. Sedangkan perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan.
Yang jelas, perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis. Tapi, sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Yaitu (1) faktor keturunan (warisan sejak lahir, bawaan). (2) Faktor lingkungan yang menguntungkan atau yang merugikan. (3) Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis. Dan (4) aktivitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, memiliki kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, memiliki emosi, dan berusaha membangun diri sendiri.
Menyikapi faktor penentu perkembangan anak di atas, maka setidaknya ada tujuh aspek perkembangan anak yang harus dibina. (1) Perkembangan gerakan motorik kasar. Gerakan motorik adalah semua gerakan yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Sedangkan yang termasuk gerakan motorik kasar ialah apabila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar dari kegiatan tubuh dan biasanya memerlukan tenaga, karena dilakukan oleh otot-otot besar. Misalnya, duduk tanpa dibantu; merangkak, bangkit, dan berdiri tanpa dibantu; dan lainnya.
(2) Perkembangan motorik halus. Yaitu gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil. Karena biasanya tidak begitu memerlukan tenaga, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya, menjangkau, mencekam, memasukan benda ke mulut; mengenal benda dengan menggunakan jempol dan satu jari; memindahkan benda dari tangannya; dan lainnya.
(3) Perkembangan komunikasi yang pasif. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk mengerti isyarat dan pembicaraan orang lain. Misalnya, menengok ke arah sumber bunyi; menghentikan kegiatan kalau mendengar ada kata perintah; memberikan reaksi yang berbeda terhadap macam-macam jenis suara; dan lainnya.
(4) Perkembangan komunikasi aktif. Yakni kemampuan anak untuk mengungkapkan keinginan dan perasaan dalam bentuk kata-kata. Misalnya, membuat bunyi-bunyi seperti tangisan; mengulangi bunyi (mengoceh) kalau sedang sendiri atau diajak bicara; mencoba meniru bunyi menurut kemampuan anak; dan lainnya.
(5) Perkembangan kecerdasan. Kecerdasan ini mengandung makna kemampuan daya ingat, daya tangkap seorang anak pada umur tertentu. Anak yang pandai akan cepat tanggap dalam membandingkan dan membedakan ide. Kemampuan kecerdasan anak ini, apabila tidak terlaksana pada waktunya akan menimbulkan kesukaran pada diri anak. Misalnya, mengikuti benda bergerak dengan mata; mengikuti gerakan dan perbuatan; mengenal orang berbeda-beda; memberikan reaksi pada orang yang belum dikenal dengan menangis atau menatap terus-menerus; dan lainnya.
(6) Perkembangan kemampuan menolong diri sendiri. Dalam hal ini, adalah ketrampilan dan kemampuan menolong diri sendiri pada saat umur tertentu. Walaupun secara alamiah seorang anak masih harus ditolong, tetapi hendaknya sudah mulai belajar untuk dapat melakukan sendiri tanpa ada pertolongan orang lain, agar anak tidak merasa canggung lagi melakukannya. Misalnya, menyuapkan biskuit ke mulut; memegang cangkir/ gelas dengan tangan tidak dibantu; dan lainnya.
(7) Perkembangan tingkah laku sosial. Yaitu tingkah laku yang mencerminkan kemampuan hidup berdampingan dengan orang lain. Perkembangan ini berdampak terhadap bagaimana seseorang anak dapat membiasakan menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat menerima, membantu, dan menghargai orang lain. Misalnya, tersenyum secara spontan; menaruh perhatian kalau namanya sendiri disebut; memberikan reaksi terhadap perkataan “tidak”; dan lainnya.
Beberapa contoh perkembangan anak di atas, merupakan kemampuan yang harus dicapai oleh anak umur 0 - 1 tahun. Semoga ketujuh aspek tersebut menjadi perhatian para orangtua yang mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.***
Arda Dinata, Seorang Pendidik dan Alumnus Kesehatan Lingkungan Kutamaya Bandung.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.
Rekomendasi Menjadi Blogger Kaya:
Saturday, September 6, 2008
7 Aspek Perkembangan Anak
Labels: anak cerdas, Education Children, Homeschooling, pendidikan anak
Posted by ARDA BLOGGING at 5:15 PM 0 comments
Bermain dengan Ayah
Oleh Arda Dinata
“Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan.”
(Margaret Young).
Sore itu, cuaca begitu cerah. Pak Zaenal seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu sampai di rumah, pak Zaenal mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayangannya, Alifia (5 th), yang sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiran ayahnya. Anak ini, seakan-akan tidak memperdulikan kondisi ayahnya. Biar kondisi ayahnya capek, lelah, dan perlu istirahat. Pokoknya dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu “bermain dengan ayah”. Dalam pikirannya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang paling menyenangkan.
Pada keadaan itulah, biasanya hati pak Zaenal luluh untuk menuruti kemauan anaknya. Dan pak Zaenal menghibur dirinya dalam hati dengan ucapan, “Bukankah, saya selaku orang tua harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Lagian kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosi anak, mendidik, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan,” ucap hatinya.
Akhirnya, terciptalah kebersamaan pak Zaenal dengan anaknya. Keduanya bermain-main naik sepeda keliling rumahnya. Hilang sudah “rasa lelah” pak Zaenal, berganti keceriaan yang tiada tara, baik dirinya maupun anaknya. Dan seperti biasanya, saat bermain itulah pak Zaenal tidak lupa menyelipkan tarbiyah tentang kehidupan kepada anaknya.
* * *
Hiburan merupakan kebutuhan tambahan --yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak--. Dari aktivitas hiburan ini, akan terbentuk penyegaran pikiran dan fisik. Ialah obat dari kejenuhan rutinitas hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak.
Dalam koridor seperti itu, biasanya emosional orang tua menjadi luluh. Orang tua memenuhi keinginan seorang anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Seperti yang terjadi pada pak Zaenal, ternyata di luar dugaannya. Sang anak hanya ingin naik sepeda. Dengan naik sepeda keliling lingkungan RT, wajah sang anak begitu terlihat bahagia. Begitu juga pada keluarga lain, anak-anak itu sebenarnya tidak menuntut banyak tentang jenis hiburannya. Tapi, dirinya ingin bermain dengan kemampuan orang tuanya.
Bisa dikatakan langkah pak Zaenal itu, adalah sesuatu yang menjadi ikon pribadi seorang ayah yang bijaksana. Karena menurut Margaret Young, sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan.
Naik sepeda, begitu sederhana. Tak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya. Tapi, hal sederhana itu, justru Subanallah manfaatnya. Diantaranya, bagaimana kita bisa mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dan lainnya. Tarbiyah itu, tentu masih dalam jangkauan pikiran dan bahasa anak-anak seusianya.
Salah satu kesan menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Aktualisasi rasa syukur nikmat itu secara sederhana, kita bisa mencontohkan misalnya bagimana seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dll. Atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain.
Pokonya, pemberian kebutuhan tambahan hiburan kepada keluarga. Lebih-lebih pada anak adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah bersabda, “Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjama’ah dibanding seseorang shalat sendiri.”(HR. Ibnu Abu Syaibah). Wallahu a’lam.***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Labels: anak cerdas, Education Children, Homeschooling, pendidikan anak
Posted by ARDA BLOGGING at 5:14 PM 0 comments
Tahapan-Tahapan Dalam Mendidik Anak
http://ardaiq.blogspot.com
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Berkenaan dengan peringatan “Hari Anak Nasional” yang diperingati setiap tanggal 23 Juli ini. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.
Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”
* *
Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).
Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.
Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan. Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).
Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”
Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).
Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).
Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”
Dalam bahasa lain, menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, secara hirarkis pokok-pokok dalam mendidik anak secara Islam itu meliputi tujuh tahapan tanggung jawab yang harus dilakukan orangtua dan pendidik, yaitu: Pertama, tanggung jawab pendidikan iman. Di dalamnya menyangkut tentang membuka kehidupan anak dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah; mengenalkan hukum halal dan haram kepada anak sejak dini; menyuruh anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun; dan mendidik anak untuk mencintai Rasul, keluarganya serta membaca Alquran.
Kedua, tanggung jawab pendidikan moral. Jika sejak masa kanak-kanak, ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, ia akan memiliki kemampun dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, di samping terbiasa dengan akhlak mulia. Sehingga dari sini, anak akan terhindar dari jeratan perilaku suka berbohong, suka mencuri, suka mencela dan mencemooh, serta terhindar dari kenakalan dan penyimpangan yang dilarang agama.
Ketiga, tanggung jawab pendidikan fisik. Tanggung jawab ini dimaksudkan agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah, dan bersemangat. Amanat ini di dalamnya berisi tentang tanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga dan anak; mengikuti aturan kesehatan dalam makan, minum dan tidur; melindungi diri dari penyakit menular; merealisasikan prinsip tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain; membiasakan anak berolah raga; membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larut dalam kenikmatan; membiasakan anak bersikap tegas dan menjauhkan diri dari penggangguran, penyimpangan serta kenakalan.
Keempat, tanggung jawab pendidikan rasio (akal). Orangtua dan pendidik hendaknya mampu membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu agama, kebudayaan dan peradaban. Di sini, anak diusahakan untuk selalu belajar, menumbuhkan kesadaran berpikir, dan kejernihan berpikir (baca: kesehatan berpikir).
Kelima, tanggung jawab pendidikan kejiwaan. Pendidikan ini dimaksudkan untuk mendidik anak berani bersikap terbuka, mandiri, suka menolong, bisa mengendalikan amarah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan jiwa dan moral secara mutlak. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mendidik anak untuk tidak bersifat minder, penakut, kurang percaya diri, dengki, dan pemarah.
Keenam, tanggung jawab pendidikan sosial. Yakni mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama. Di antaranya berupa penanaman prinsip dasar kejiwaan yang mulia didasari pada akidah islamiah yang kekal dan kesadaran iman yang mendalam. Sehingga si anak di tengah-tengah masyarakat nantinya mampu bergaul dan berperilaku sosial dengan baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.
Ketujuh, tanggung jawab pendidikan seksual. Di sini, orangtua dan pendidik hendaknya mampu mendidik tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sejak ia mengenal masalah-masalah yang berkenaan dengan naluri seks dan perkawinan. Sehingga ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan-urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam. ***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Labels: anak cerdas, Education Children, pendidikan anak
Posted by ARDA BLOGGING at 5:13 PM 0 comments
Kesehatan Ibu, Bisnis dan Anak Cerdas
Kompas.Com - Asi.bikin.anak.cerdas.kok.bisa
INGIN memiliki anak Anda yang cerdas? Berikanlah Air Susu Ibu (ASI) sejak ... untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan, ujar Ines Gulardi. ...www.kompas.com/read/xml/2008/05/12/17040822/asi.bikin.anak.cerdas.kok.bisa - 37k - Tembolok - Halaman sejenis
Kompas.Com - Gizi.memadai.bikin.anak.cerdas
/Home/Kesehatan/Ibu dan Anak. Gizi Memadai, Bikin Anak Cerdas. Artikel Terkait: ... Berita Ekonomi/Bisnis, REG BIS, UNREG BIS ...www.kompas.com/read/xml/2008/05/24/20011942/gizi.memadai.bikin.anak.cerdas - 34k - Tembolok - Halaman sejenisHasil temuan lainnya dari http://www.kompas.com/ »
Kompas.Com - Banyak.bermain.bikin.anak.cerdas
INGIN anak Anda cerdas dan kreatif? Mulailah melewati hari-hari bersama bayi atau ... ke perut ibu atau membacakan doa sambil mengelus-ngelus perut ibu. ...202.146.4.17/read/xml/2008/07/23/17323899/banyak.bermain.bikin.anak.cerdas - 38k - Tembolok - Halaman sejenis
ANAK CERDAS DAN KREATIF BERKAT ALUNAN MUSIK « :: Keluarga Mustafa ::
Musik bersyair itu misalnya lagu anak-anak ciptaan Ibu Sud atau Ibu Kasur. .... DIarsipkan di bawah: Parenting yang berkaitan: Ibu, anak cerdas, musik, ...keluargamustafa.wordpress.com/2008/07/11/anak-cerdas-dan-kreatif-berkat-alunan-musik/ - 37k - Tembolok - Halaman sejenis
suarasurabaya.net - Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Prioritas
Temukan Bisnis Internet Paling Mudah Dan Praktis Menghasilkan Uang Melimpah Di ... Untuk itu, peran pro aktif dalam menunjang kesehatan ibu dan anak, ...www.suarasurabaya.net/v05/kelanakota/?id=6e751e0e04da3e7a9a8039d3d20954ec200855772 - 58k - Tembolok - Halaman sejenis
Info Kesehatan, Teknologi & Bisnis
Anak cerdas dan tumbuh sehat dambaan semua orang tua. .... Bayi dari ibu yang gemar makan cokelat memiliki perangai riang dan aktif. ...mazzmoel.blogspot.com/ - 40k - Tembolok - Halaman sejenis
Bertubuh Montok, Jaminan Anak Cerdas? Petunjuk & Instruksi ...
Wanita yang masuk dalam kategori ini tentu saja memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik, dan berpeluang memiliki anak yang sehat dan cerdas. ...id.88db.com/id/Discussion/Discussion_reply.page/Lesson_Instruction/?DiscID=558 - 112k - Tembolok - Halaman sejenis
Ibu Cerdas Bayi Sehat - Ada Apa di Trimester Kedua?
24 Jul 2008 ... Keluhan dan Solusi Kesehatan Ibu Hamil Trimester Kedua ... tntang perkembangan ke 2 anak saya yg 1 usianya 1,7 blan tpi blm jls bicaranya, ...www.bayisehat.com/pregnancy/ada-apa-di-trimester-kedua.html - 46k - Tembolok - Halaman sejenis
Labels: anak cerdas, bisnis, Education Children, FAMILY, kesehatan ibu
Posted by ARDA BLOGGING at 11:43 AM 0 comments
