Rekomendasi Menjadi Blogger Kaya:

Showing posts with label KELUARGA. Show all posts
Showing posts with label KELUARGA. Show all posts

Friday, September 12, 2008

Keluarga Bening Hati

oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com

Salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam membangun kebeningan hati dalam keluarga, selain keluarga Rasulullah Saw, adalah keluarga Khalifah Ali bin Abu Thalib. Ali ra adalah suami dari Fatimah putri Rasulullah. Beliau sejak kecil hidup bersama Rasulullah, karena Rasulullah pernah diasuh oleh ayah Ali. Setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khodijah, Ali ikut bersama Rasulullah dan dibesarkan, diasuh serta dididik sehingga tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, dan pemberani.

Keberanian dan kebeningan hati Ali ini tercermin pada ikut sertanya dalam hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah. Ali senantiasa berada di barisan muka. Seringkali kaum muslimin memperoleh kemenangan karena keberaniannya dan ketangkasannya, Ali dikenal dengan Dzulfaqar karena pedangnya yang bermata dua. Namun demikian, Ali sehari-hari dalam keluarga, perilakunya selalu lemah lembut –sebagai pancaran kebeningan hati--.

Berkait dengan kebeningan hati ini, Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala di bumi-Nya mempunyai sebuah wadah, yaitu hati. Maka yang paling dicintai Allah ialah hati yang paling lembut, paling jernih, dan paling keras.” Kemudian beliau menafsirkannya. Maka beliau berkata, “Maksudnya ialah yang paling keras dalam agama, paling jernih dalam keyakinan, serta paling lembut terhadap saudara-saudaranya.”

Keterangan itu menunjukkan kalau syariat Islam yang toleran telah memberikan perhatian yang besar terhadap institusi keluarga, sehingga ia menduduki posisi layak yang membuat ia menjadi pijakan kokoh bagi setiap muslim untuk mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan amal saleh yang bermanfaat.

Untuk mewujudkannya, setiap keluarga perlu dibangun suatu sistem pembelajaran yang dilandasi kebeningan hati. Perumpamaan hati adalah cermin. Selama ia bersih dari kotoran, maka dapatlah dilihat padanya segala sesuatu. Apabila ia tertutup kotoran dan tidak ada yang membersihkannya, maka ia pun diselimuti kotoran, yang pada akhirnya binasa –tidak dapat dibersihkan--.

Bukankah, kondisi bening hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat melejitkan potensi terciptanya keluarga sakinah? Rasulullah Saw bersabda, “Apabila Allah Swt menghendaki suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikan-Nya kecenderungan menghayati ilmu-ilmu agama; yang muda menghormati yang tua; harmoni dalam kehidupan; hemat dan hidup sederhana; melihat (menyadari) cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah Swt menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan.” (HR. Dailami dan Anas).

Sungguh indah, suatu keluarga yang hidupnya dibangun dengan kebeningan hati. Maka, panjatkanlah selalu doa: “…. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqaan: 74). Wallahu a’lam.

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com/?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com/

Katakanlah Wahai Anakku

Oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com/



“Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.” (Harry S. Truman)


Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orang tua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, “Terkait dengan apa turunnya ayat, Inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS Al-Baqarah: 266)?”

Mereka menjawab, “Hanya Allah-lah yang tahu.” Maka, Umar ‘marah’ seraya mengatakan, “Katakanlah: tahu atau tidak tahu.”

Ibnu Abbas menjawab, “Dalam benakku ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu’minin.” Umar mengatakan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri.”

Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal.”

“Amal apa?” tukas Umar.

Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu.”

* * *

Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orang tua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tak kala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.

Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.

Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orang tua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orang tua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.

Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya tiap orang tua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, “Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.”

Adapun cara mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Abidin –seorang ulama besar—pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, “Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku.”

Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya. Dari sini, tentu orang tua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orang tua biasakan mengucapkan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri,” dengan suara lembut lagi penuh keakraban. Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Katakanlah Wahai Anakku

Oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com/


“Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.” (Harry S. Truman)


Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orang tua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, “Terkait dengan apa turunnya ayat, Inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS Al-Baqarah: 266)?”

Mereka menjawab, “Hanya Allah-lah yang tahu.” Maka, Umar ‘marah’ seraya mengatakan, “Katakanlah: tahu atau tidak tahu.”

Ibnu Abbas menjawab, “Dalam benakku ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu’minin.” Umar mengatakan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri.”

Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal.”

“Amal apa?” tukas Umar.

Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu.”

* * *

Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orang tua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tak kala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.

Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.

Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orang tua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orang tua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.

Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya tiap orang tua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, “Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.”

Adapun cara mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Abidin –seorang ulama besar—pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, “Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku.”

Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya. Dari sini, tentu orang tua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orang tua biasakan mengucapkan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri,” dengan suara lembut lagi penuh keakraban. Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Berpkir dan Bertindak Demi Hari Esok

Oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com/


Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
(Vernon Howard).


Pada suatu hari Bahlul tengah berjalan-jalan di sebuah jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati, “Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lain.” Kemudian Bahlul berkata kepadanya, “Anakku, mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu dapat bermain dengan teman-temanmu?”

Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: “Hai orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main.”

“Lalu untuk apa kita diciptakan?” tanya Bahlul.

Anak kecil itu menjawab, “Untuk belajar dan beribadah.”

Bahlul bertanya lagi,”Dari mana kamu memperoleh jawaban itu? Kiranya Allah memberkatimu.”

Dia menjawab, “ Dari firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun: 116, Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

* * *

Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan pelajaran bagi siapa pun. Kalau manusia itu, diciptakan untuk belajar dan beribadah. Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.

Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.

Di sinilah, barangkali perlunya peranserta dan kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya. Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah, perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa depannya.

Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.

Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.

Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk menyongsong hari esok, selain setiap anggota keluarga muslim harus betul-betul menyadari bahwa dalam hidup ini, kita harus memperhatikan bekal-bekal apa saja yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok. Allah berfirman, “….dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), ….” (QS. Al-Hasyr: 18). Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Manajemen Kepemimpinan dalam Rumah Tangga

Oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan pemimpin manusia (iman), itu juga pemimpin yang akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan setiap laki-laki itu pemimpin atas kelaurganya; dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Setiap pelayan itu pemimpin dalam mengurus harta majikannya, dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Maka setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya.” (HR. Muslim).

MENURUT Kurnia Irawati Istadi, dua tahun terpenting dalam kehidupan manusia adalah di awal usianya. Dan di masa-masa emas tersebut ternyata bayi-bayi itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama ibu. Kualitas sentuhan pendidikan yang ibu berikan di usia ini akan menentukan kualitas mereka hingga dewasa kelak.

Persoalan keluarga sangat beragam. Walaupun suami sebagai kepala keluarga, namun biasanya urusan keseharian lebih banyak keputusannya diserahkan atau didelegasikan kepada isteri. Artinya ratusan kebijakan-kebijakan kecil yang ibu putuskan dari hari ke hari, adalah ibarat potongan-potongan kecil puzzle yang saling melengkapi satu dengan yang lain, sehingga kelak akan menghasilkan susunan gambar kehidupan yang indah dan sempurna. Jadi, sekeping kecil kebijakan remeh sekalipun tentu memiliki andil dalam menentukan gambar masa depan sebuah keluarga.

Jadi, jangan remehkan akan pentingnya manajemen rumah tangga sebagai penyempurna ikhtiar dalam rangka membentuk tatanan keluarga sakinah. Secara sederhana, manajemen rumah tangga diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan perantaraan orang lain, tetapi dapat juga berarti mengelola anggota keluarga untuk melakukan kegiatan di dalam rumah tangga. Proses manajemen itu meliputi tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan dan pengawasan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber lain.

Proses seperti itu, jelas-jelas menunjang dalam pengelolaan keluarga. Pasalnya, dengan jam kerja 24 jam sehari, kebanyakan orang masih menganggap profesi manajer rumah tangga sekedar kewajiban seorang isteri. Padahal, ketrampilan yang dibutuhkan tidaklah main-main. Menurut Ishak solih, seorang manajer harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan, misalnya: berwibawa, berdaya mampu untuk membawa serta dan memimpin bawahannya, jujur, terpecaya, bijaksana, berani, mawas diri, sanggup dan mampu mengatasi kesulitan, bersikap wajar, sederhana, penuh pengabdian kepada tugas, sabar dan berjiwa besar.

Keberadaan sifat kepemimpinan pada kepala keluarga atau ibu rumah tangga seperti itu, sangat menunjang kesuksesan pengelolaan rumah tangga menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan keseharian.

Kepemimpinan Keluarga

Dalam keluarga lengkap, pemimpin tertinggi adalah suami (istilah manajemen dinamakan top manager). Kemudian pemimpin kedua adalah isteri yang dapat disebut middle manager atau sekaligus lower manager. Dan umumnya aplikasinya cukuplah dengan pembagian tugas. Suami sebagai kepala keluarga (yang memimpin isterinya) dan isteri sebagai ibu rumah tangga.

Peranan kepemimpinan dalam membina rumah tangga menduduki tempat yang strategis dan menentukan dapat tidaknya keluarga itu mencapai kesejahteraannya. Karenannya, di sini diperlukan perilaku keteladanan dari orang tua. Artinya, sikap dan tindakan seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga akan memberikan pengaruh besar terhadap anggota keluarganya.

Berikut ini ada beberapa petunjuk bagi setiap pemimpin rumah tangga yang terdapat dalam ajaran Islam. Sehingga menurut Ishak Solih, mudah-mudahan para pemimpin yang berwatak kurang baik (baca: watak diktator dan watak liberal-Pen) dapat memperbaiki setelah memahami, menghayati dan mencoba mengamalkan petunjuk di bawah ini.

Pertama, dalam membina keluarga sejahtera, sebuah anggota keluarga berkewajiban untuk memelihara diri masing-masing dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari, sehingga terwujudlah kehidupan yang harmonis. Khusus bagi kepala keluarga dan atau ibu rumah tangga wajib memelihara diri dan memelihara semua anggota keluarganya. (baca: QS. At-Tahrim [66]: 6).

Kedua, setiap kepala keluarga dan atau ibu rumah tangga wajib mempertanggung jawabkan kepemimpinannya baik di dunia maupun di akherat nanti. Nabi Saw bersabda: “Masing-masing kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan pemimpin manusia (iman), itu juga pemimpin yang akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan setiap laki-laki itu pemimpin atas kelaurganya; dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Setiap pelayan itu pemimpin dalam mengurus harta majikannya, dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Maka setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya.” (HR. Muslim).

Ketiga, setiap pemimpin keluarga hendaknya bersikap lemah lembut terhadap semua bawahannya. Bila ada kesalahan di antara mereka maafkanlah bahkan mohonkan maaf baginya. Dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan keluarga, baik dalam membuat perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, hendaknya suka bermusyawarah. (baca: QS. Ali Imran [3]: 159).

Keempat, dalam hubungan antara yang memimpin dan dipimpin dalam keluarga, hendaknya dipupuk tali ikatan kasih sayang di samping faktor material lainnya. Hendaknya satu sama lain penuh kesabaran dalam mengejar kebahagiaan bersama. (baca: QS. At-Taubah [9]: 128).

Kelima, dalam keluarga hendaknya tercipta adanya saling mencitai dan mendoakan di antara pemimpin dan yang dipimpin. Hindarkanlah saling membenci dan saling mengutuk. Menurut Rasulullah Saw, yang paling baik di antara pemimpin kamu adalah yang kamu cintai dan yang mencintai kamu, yang kamu mintakan barkah untuknya dan untukmu.

Keenam, hendaknya seorang suami bersikap adil terhadap isterinya. Demikian pula sebagai orang tua terhadap anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya. Kebencian kepada anggota hendaknya dihindarkan. Apabila ada sikap dan tingkah laku yang tidak baik, hendaknya diperbaiki dengan penuh kesabaran, sehingga sikap dan tingkah laku tersebut hilang dengan pendidikan terhadap diri anggota keluarga, janganlah malah bertindak tidak adil. (QS. Al-Maidah [5]: 8).

Akhirnya, diharapkan peran pemimpim dalam proses manajemen rumah tangga akan membuahkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam keluarga. Amin. Wallahu’alam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Meluruskan Emansipasi dan Membangun Karakter Bangsa

Oleh Arda Dinata
http://ardanews.blogspot.com


BERBICARA
tentang wanita tidak akan pernah ada habisnya, bagaikan sebuah oase yang tidak membosankan, semakin dibicarakan akan semakin terbuai olehnya. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan bahwa kemajuan wanita adalah sebagai ukuran kemajuan negeri kaum ibu yang dapat menggoyangkan buaya dengan tangan kirinya, dapat pula menggoyangkan dunia dengan tangan kanannya.

Berkait dengan itu, timbul satu pertanyaan dalam menyikapi kondisi keterpurukan bangsa Indonesia saat ini. Yakni, apakah ada yang salah dari perilaku kaum wanita di Indonesia, bila kita kaitkan dengan kondisi bangsa ini?

Di zaman ini, ada kecenderungan yang sangat kuat di kalangan wanita, dari lapisan apapun, untuk bekerja. Begitu seorang wanita menyelesaikan pendidikannya, maka yang terbayang dalam benaknya adalah dunia kerja. Bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji. Intinya bekerja di luar rumah (Suharsono, 2002:23).

Menyikapi kecenderungan itu (baca: wanita yang menghilangkan kodrat sebagai ibu), patut kita renungkan apa yang dipertanyakan Said Hawa, bahwa bukankah lebih terhormat bagi wanita, jika segala keperluan dan pembiayaan hidupnya dijamin oleh suaminya, daripada mesti bekerja di luar rumah dan mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan karakternya? Apakah pertumbuhan anak lebih baik di dalam asuhan ibunya, atau di dalam asuhan tempat penitipan?

Menyikapi fenomena tersebut, ada tiga tekad yang dilahirkan kaum wanita pada kongres pertamanya di Yogyakarta 22 Desember 1928, yakni menggalang persatuan, tampil seiring dengan kaum pria dalam merebut kemerdekaan, serta meneruskan cita-cita untuk memperoleh hak hidup dalam kodratnya sebagai wanita. Ternyata masih relevan dengan makna perjalanan pembangunan dalam mengisi kemerdekaan saat ini.

Menurut H.M. Hembing Wijayakusuma (1995: 426), tiga tekad wanita Indonesia terus diperjuangkan, terutama menyangkut hak hidup sesuai kodratnya. Tapi satu hal yang pantang diremehkan, yakni peran kaum ibu sebagai ibu rumah tangga. Kaum bapak sungguhpun ada kekecualian, tapi pengabdiannya di kantor, atau di tempatnya menggantungkan hidup bersama keluarga untuk mencari nafkah, akan banyak dipengaruhi oleh peran istri dalam rumah tangga. Agama Islam mengajarkan bahwa surga itu berada ditelapak kaki ibu. Dapatkah kaum ibu menghayati makna ajaran ini sehingga senantiasa menjadi anutan sang anak dan curahan kasih sayang suami? Itulah pedoman paling berharga untuk bisa tampil sebagai madu pemanis rumah tangga dan pengharum bangsa dengan gelar ibu.

Dalam bahasa lain, Suharsono (2002: 25-26) mengungkapkan bahwa tampaknya kita perlu merenungi sebuah pernyataan yang disabdakan Nabi Saw, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Bila kita simak baik-baik pernyataan ini kita patut bertanya, “Apakah setiap (tipologi) ibu dapat mensurgakan anaknya?” Apakah tipologi ibu dalam perspektif budaya patriarkhi, yang hanya bergerak dari dapur sampai tempat tidur dapat mensurgakan anak-anaknya? Atau sebaliknya, ibu-ibu dalam perspektif feminisme dewasa ini, yang mampu mensurgakan anak-anaknya.

Lebih jauh diungkapkan, jika Islam sangat menghargai harkat wanita, seperti dinyatakan Alquran surat Luqman: 14 dan Ahqaf: 15, bukanlah bertujuan agar perempuan itu menjadi laki-laki, dengan cara persamaan hak kerja, profesi dan sebagainya, tetapi untuk menjadi ibu. Islam tidak mengatur masalah kerja profesional bagi perempuan, apalagi jika kerja itu dilakukan di luar rumah, karena memang tidak ada kewajiban perempuan untuk mencari nafkah. Tetapi sebaliknya, Islam mengatur secara rinci bagaimana mestinya perempuan menjadi ibu.

Menurut Sukarti H. Manan (1999), yang menjadi kenyataan sekarang ini adalah muncul istilah emansipasi wanita yang sering disalah artikan. Penulis teringat pada Kartini yang dengan gigihnya memperjuangkan derajat wanita agar sejajar dengan kaum pria. Ketika wanita memperoleh kesempatan “berkiprah” di dunia luar selain rumah tangganya, ada kalanya mereka secara tidak sadar melupakan kodrat kewanitaan-nya, rumah tangga, termasuk anak dan suami. Bekerja melebihi waktu, sehingga anak justru “terdidik” oleh orang lain (pembantu) dan memunculkan perasaan “bersih” pada diri suami.

Untuk itu, pemaknaan emansipasi wanita ini harus segera kita luruskan agar tidak membuat keterpurukan bangsa ini menjadi berlarut-larut. Dalam nada pertanyaan, Elvira W & Eva R (1997), mengungkapkan bahwa satu fenomena (gejala) yang tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa semakin banyak perempuan yang menghiasi percaturan perpolitikan tidak menutup suatu kemungkinan menunjukkan bahwa semakin banyak wanita yang terlibat dalam dunia kejahatan. Jadi apakah semua merupakan suatu keberhasilan dari peran ganda wanita atau hanya fatamorgana belaka??..

Dalam hal ini, Maurice Bardeche, pakar dari negara Prancis yang dinilai sebagai pelopor yang mengumandangkan semboyan “kebebasan dan persamaan”, dalam bukunya “Hestoire des Femmers” memperingatkan janganlah hendaknya kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian akan lahir bahkan telah lahir jenis manusia ketiga sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam bukunya “Lentera Hati”. Dikatakannya bahwa “baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suaminya, membersihkan dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya”. (Widaningsih, 2000).

Sementara itu, diungkapkan Dadang Kusnandar, jika wanita secara tulus melakukan tugas-tugas rumah tangganya, boleh jadi konsep rumah tangga Islam: Baiti Jannati, dengan sendirinya akan lebih mudah terbina. Sebab pendidikan yang paling mulia bagi anak tidak lain bermula dari ibu. Maka anak-anak langsung memperoleh pendidikan dan kasih sayang seorang ibu, lebih terjamin akhlaknya. Anak-anak akhirnya lebih terkendali dan bersosialisasi di tengah pergaulan masyarakat. Mereka tidak mudah terjerat pada sekian penyimpangan dari perilaku chaos serta tawaran-tawaran nilai “baru” untuk melakukan pengingkaran norma-norma sosial, terutama moral serta etika agama.

Sebaliknya, wanita yang menyerahkan pendidikan anaknya kepada orang lain tanpa keterlibatan langsung dan penuh dari ibunya ketika ia remaja tampak lebih lentur dalam menerima “paradigma” di kalangan remaja, terutama di kota-kota. Katakanlah ia menjadi terasing dari lingkungannya, malah dengan keluarga sendiri kerap menjadi amat individualis. Dan sulit dihindari kenyataan menujukkan adanya sejumlah dekonstruksi moral dan etika sosial, sering bermula dari ketidak harmonisan hubungan keluarga.

Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran untuk menjadi seorang ibu. Kesadaran ini, tentu berkenaan dengan masalah-masalah reproduksi perempuan sebagaimana yang menjadi wacana feminisme. Tetapi, dalam pandangan Suharsono (2002), persoalannya tidaklah cukup dengan “melahirkan” lalu menjadi ibu dan selesai. Menjadi ibu melibatkan pengertian dan kesadaran baru yang harus dimiliki bagi setiap perempuan. Di samping resiko beratnya melahirkan, menjadi ibu berarti memiliki kesadaran penuh untuk membekali diri dalam rangka mendidik anak-anaknya. Tugas untuk menjadi ibu dalam pengertian seperti ini, membutuhkan bobot spiritual dan intelektualitas yang memadai. Para ibu adalah guru pertama anak-anaknya sendiri. Orang pertama yang akan menjadi sandaran bagi anak-anaknya, tempat bertanya, mengadukan halnya dan juga perlindungannya. Jawaban-jawaban yang diberikan serta kepedulian seorang ibu bagi anak-anaknya, sangat menentukan bagi masa depan anak-anaknya.

Pendidik Karakter

Dalam Alquran, kita diingatkan agar memelihara keluarga dari api neraka. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; … (QS. At Tahrim: 6). Iman Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna ayat ini, “Didiklah diri dan kelurgamu dengan perbuatan baik dan saleh.”

Allah secara tegas memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga dengan ajaran-ajaran agama, sehingga terbentuk keluarga yang bertaqwa. Bila keluarga baik, maka negara pun baik. Keluarga merupakan negara kecil. Bila ingin membangun negara, kita harus mulai dari keluarga. (Indris Thaha; 1997:10).

Untuk mencapai kondisi tersebut, di sini paling tidak kita memerlukan sosok wanita, ibu, atau muslimah yang mampu menjadi pendidik sesuai akhlak Islam. Dan kuncinya ada pada kekayaan ilmu, sehingga kita (baca: ibu) dituntut harus banyak ilmu terutama ilmu agama Islam.

Berkait dengan menjadikan wanita sebagai pendidik, menurut Indrawati (1999), mengungkapkan bahwa pendidik wanita, tidak hanya menjadi komputer yang siap menyimpan data (file) di luar kepala terhadap sejumlah ilmu pengetahuan, informasi, dan nilai-nilai yang sudah, sedang, dan akan berkembang di masyarakat. Akan tetapi, ia harus menjadi pelaku yang gesit, tampil terampil, berani melangkah dengan tegar dan tegas, dan penuh percaya diri.

Lebih jauh diungkapkan, wanita diciptakan Tuhan bukan dari tulang tengkorak pria, yang hanya bisa menjadi pemikir. Bukan hanya dari tulang kaki, yang hanya bisa manut untuk berjalan. Bukan pula dari tulang tangan yang hanya bisa menengadah dan mengharap belas kasihan orang lain. Akan tetapi, wanita diciptakan dari rongga dada seorang pria, di mana seluruh pusat kehidupan dimulai dan harus dilindungi.

Di situlah bergetarnya perasaan dan keimanan, berdenyutnya nafas yang memberikan semangat dan kemauan. Kalau instrumen-instrumen ini baik, maka semua getaran perintah akan meluncur ke otak dengan baik pula. Filosofi demikian harusnya dapat menyadarkan kita semua (terutama kaum ibu) untuk menyadari dan membangun kepribadiannya agar semakna dengan ungkapan bahwa: “Wanita adalah tiang negara dan sorga berada di telapak kaki ibu”.

Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Arti lainnya, wanita adalah pendidik utama dan pertama. Wanita adalah teman sejawat. Wanita adalah tiang negara. Yang terakhir ini, memproyeksikan bahwa apabila wanita dalam negara tersebut baik -–moralitas, kecerdasan, dan spiritualitasnya---, maka kokohlah negara tersebut. Sebaliknya dapat dipastikan, jika wanitanya buruk, maka hancurlah negara tersebut. Jadi, ibulah yang akan “membentuk” karakter dan kondisi suatu bangsa.

Untuk itu, semoga wanita-wanita penghuni bangsa ini tidak melupakan kodrat kewanitaannya, yakni menjadi seorang ibu yang baik. Ibu yang mampu menghasilkan keturunan yang baik pula, menjadi pendidik utama dan pertama sehingga dapat membentuk karakter dan kondisi bangsa Indonesia yang lebih baik serta ada dalam lindungan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:
http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com